The Chicken Game

psikologi gertakan dalam konflik nuklir atau negosiasi bisnis tingkat tinggi

The Chicken Game
I

Bayangkan kita sedang duduk di balik kemudi sebuah mobil otot Amerika tahun 50-an. Di ujung jalan sana, ada mobil lain yang posisinya persis menghadap kita. Mesin sama-sama digeber. Lampu depan menyilaukan mata. Begitu bendera dikibarkan, kedua mobil melaju kencang, saling menantang tabrakan maut. Aturannya sederhana: siapa yang membanting setir duluan, dialah si pengecut, si ayam sayur. Sebaliknya, yang tetap melaju lurus adalah pemenangnya. Tapi, kalau tidak ada yang mau mengalah? Keduanya mati berkalang besi hancur.

Skenario ini mungkin terdengar seperti adegan klise dari film lawas Rebel Without a Cause. Sangat dramatis dan terkesan seperti kebodohan remaja yang dibakar testosteron. Namun, bagaimana jika saya memberi tahu teman-teman bahwa permainan bodoh ini pernah menjadi satu-satunya pedoman bagi para pemimpin dunia untuk mencegah kiamat nuklir?

Permainan ini nyata. Para ilmuwan menyebutnya The Chicken Game. Dan entah kita sadari atau tidak, pola psikologis dari permainan ini terus berulang. Mulai dari drama negosiasi gaji kita di kantor, pertarungan ego miliarder saat mengakuisisi perusahaan, hingga ancaman rudal antarbenua.

II

Mari kita naikkan sedikit taruhannya. Kita tinggalkan mobil remaja tadi dan melangkah ke bulan Oktober 1962. Saat itu, dunia sedang menahan napas dalam peristiwa Krisis Rudal Kuba. Presiden AS John F. Kennedy dan Pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev sedang duduk di "kursi kemudi" mereka masing-masing. Jari mereka berada tepat di atas tombol nuklir.

Amerika memblokade Kuba. Soviet menolak mundur. Dua raksasa ini saling melaju cepat menuju tabrakan yang bisa memusnahkan peradaban manusia. Saat itu, The Chicken Game bukan lagi sekadar metafora. Ia berubah menjadi hitung-hitungan matematis hidup dan mati dalam cabang ilmu yang disebut Game Theory atau Teori Permainan.

Dalam negosiasi bisnis tingkat tinggi pun kita sering melihat pola yang sama. Dua perusahaan raksasa saling menggertak di pengadilan, atau serikat pekerja yang mengancam mogok total jika CEO tidak menaikkan gaji. Keduanya sadar, kalau tabrakan itu benar-benar terjadi, pabrik akan tutup dan kedua belah pihak akan hancur.

Pertanyaannya, kenapa orang-orang super cerdas ini mau bermain di zona yang begitu irasional? Karena ada satu jebakan psikologis yang sangat menggoda di sana: ego dan ilusi kontrol. Kita selalu yakin bahwa lawan kitalah yang akan berkeringat dingin dan membanting setirnya duluan.

III

Sekarang, mari kita masuk ke bagian yang paling membuat penasaran. Di sinilah logika kita akan sedikit dipelintir.

Dalam dunia yang rasional, solusi dari The Chicken Game sangatlah mudah. Kedua belah pihak tinggal sama-sama mengerem, turun dari mobil, lalu berdiskusi sambil minum kopi. Sayangnya, otak manusia dan sejarah konflik dunia tidak bekerja seindah itu.

Menurut ahli matematika dan pionir Teori Permainan seperti John von Neumann, masalah utama dari The Chicken Game adalah paradoks rasionalitas. Kalau musuh tahu bahwa kita adalah orang yang waras dan cinta damai, dia justru akan terus melaju lurus. Kenapa? Karena dia yakin 100 persen bahwa orang waras pasti akan membanting setir untuk menghindari kematian. Jadi, bersikap rasional dan masuk akal justru membuat kita kalah mutlak.

Lalu, bagaimana caranya kita bisa menang dalam permainan gertakan di mana menjadi waras adalah sebuah kelemahan?

Para ahli strategi Perang Dingin memecahkan teka-teki ini berpuluh tahun lalu. Jawabannya sangat tidak masuk akal, tapi secara psikologis sangat brilian. Kita tidak akan menang dengan cara memegang setir kuat-kuat. Kita hanya bisa menang, justru saat kita dengan sengaja merusak mobil kita sendiri. Bagaimana mungkin?

IV

Mari kita sambut sebuah konsep dari peraih Nobel Ekonomi, Thomas Schelling, yang disebut sebagai Precommitment Strategy atau strategi pra-komitmen.

Schelling menemukan bahwa satu-satunya cara untuk menang dalam The Chicken Game adalah dengan membuktikan kepada lawan bahwa kita sama sekali tidak punya kendali lagi untuk mundur.

Bayangkan kita kembali ke mobil tadi. Lawan kita sedang menatap kita dari jauh. Tiba-tiba, kita mencopot setir mobil kita, dan membuangnya keluar jendela agar dia bisa melihatnya.

Apa yang terjadi di otak lawan saat melihat itu? Kepanikan murni. Dia sekarang sadar bahwa kita sudah tidak bisa lagi membanting setir, sekalipun kita mau. Pilihan yang tersisa bagi lawan hanyalah: mati menabrak kita, atau dialah yang harus membanting setirnya sendiri. Dalam negosiasi ekstrem, orang yang secara sukarela membuang "rem"-nya justru memegang kendali penuh atas hasil akhir.

Inilah sebabnya dalam strategi nuklir dikenal istilah Madman Theory atau Teori Orang Gila. Seorang pemimpin negara akan sengaja bertingkah sedikit impulsif dan tidak tertebak. Tujuannya agar musuh berpikir, "Orang ini benar-benar gila dan tidak peduli pada kehancuran, lebih baik kita saja yang mengalah."

Di dunia bisnis miliarder, strategi buang setir ini sering terjadi. Misalnya, saat seorang negosiator secara publik menandatangani kontrak mengikat yang memberinya denda luar biasa besar jika ia mengubah kesepakatan. Ia sengaja mengunci dirinya sendiri di depan mata lawannya. Ia membuang opsi untuk mundur, sehingga lawan terpaksa tunduk pada syaratnya agar kesepakatan tidak hancur total. Ini adalah senjata psikologis berupa irasionalitas yang dikalkulasi.

V

Pada akhirnya, memahami The Chicken Game memberi kita lensa baru untuk melihat bagaimana manusia berinteraksi saat berada di bawah tekanan ekstrem.

Kita mungkin tidak sedang memegang tombol nuklir atau membeli platform media sosial seharga triliunan rupiah. Tapi, coba ingat-ingat lagi pertengkaran hebat kita dengan pasangan, atau konflik dingin dengan rekan kerja di kantor. Sering kali, kita secara tidak sadar sedang bermain The Chicken Game. Kita saling mendiamkan, saling meninggikan gengsi, menunggu siapa yang akan "membanting setir" untuk meminta maaf duluan.

Sains dan sejarah telah membuktikan bahwa gertakan dan "membuang setir" memang bisa membuat kita memenangkan pertarungan. Namun, Thomas Schelling juga mengingatkan sebuah realitas pahit. Bagaimana jika saat kita membuang setir kita ke luar jendela, di detik yang sama, musuh kita ternyata melakukan hal yang sama?

Kecelakaan tak bisa dihindari. Kehancuran mutlak terjadi.

Jadi, teman-teman, sebelum kita masuk terlalu dalam pada perang ego atau negosiasi yang menguras emosi, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri. Apakah memenangkan sebuah gertakan sepadan dengan risiko hancurnya segala hal yang sudah kita bangun? Kadang-kadang, tindakan paling berani bukanlah bertahan di jalur maut tersebut. Tindakan paling berani dan cerdas adalah menolak untuk ikut bermain sejak awal.